Ribuan Jama'ah Tumpah Ruah Hadiri Pengajian Cicit Syekh Abdul Qodir Al-Jailani


NU KETAPANG - Maulana Syekh Asy-Syarif Prof. Dr. Muhammad Fadhil A-Jailani Al-Hasani Al-Huseini Hafizhahullah kembali hadir ketiga kalinya di Pondok Pesantren Darul Fadhilah, Kauman, Benua Kayong, Kabupaten Ketapang.


Kehadiran Cicit Sulthonul Auliya Syekh Abdul Qodir Al-Jilani QS ke-25 dari Turki di Ketapang ini dalam rangka menyampaikan kajian Kitab Karya Syekh Abdul Qodir Al Jailani QS., selasa (22/3) malam.


Ribuan jama'ah tumpah ruah hadir dipengajian pada malam itu. Mereka tidak hanya para santri dan santriwati Darul Fadhilah, tetapi juga para jama'ah majelis taklim di bawah naungan Darul Fadhilah dan undangan.


Pengasuh Pondok Pesantren Darul Fadhilah Syaikhul Amir Muhammad Abdul Quddus S.Th.I. yang juga Wakil Rais PCNU Ketapang merasa bersyukur bahwa pengajian berlangsung dengan baik dan lancar. Bahkan beliau terus berharap pada kesempatan yang akan datang Syekh Muhammad Fadhil bisa hadir kembali ke Ketapang.


Kehadiran Syekh Muhammad Fadhil ke Ketapang di dampingi Al-Mursyid As-Syekh KH. Muhammad Anshori Al-Qodiri, AH., S.Ag Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyah wa Thoriqoh Qodiriyyah Al-Jailaniah Al-'aliyyah Al-Mubarokah Al-Ma'unah Sugihwaras, Madiun Jawa Timur.



Dalam urain Tausiyahnya Syekh Fadhil merasa bahagia bisa kembali hadir di Ketapang setelah tertunda 2,5 tahun karena pandemi Covid-19.


"Saya amat sangat bahagia sekali dapat kembali mengunjungi bersilaturahmi ke negara saya ini setelah berpisah selama 2,5 tahun disebabkan Corona. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk bersama," ujarnya.


Beliau juga amat bahagia dan gembira sekali atas selesainya penerjemah Tafsir Al-Jailani setelah masa menunggu cukup lama yaitu 15 tahun dari markas Al-Jailani di Indonesia.


Dikatakan beliau, Tafsir Al-Jailani dalam bahasa Arab hanya bisa dipahami oleh orang yang alim. Akan tetapi Tafsir Al-Jailani yang bahasa Indonesia bisa dibaca dan dipahami oleh orang yang alim dan yang tidak alim. 


Lebih lanjut beliau mengatakan amat sangat bahagia sekali, karena dirinya dapat mengunjungi negara Indonesia yang ia akui sebagai negeranya sendiri. 


"Saya tidak mengatakan Indonesia negara saya kedua, tetapi ini negara saya. Kenapa demikian, saya telah mengelilingi dunia kurang lebih empat benua, Eropa, Asia, Amerika dan Afrika, tidak ada masyarakat di sana yang lebih mencintai saya dan Syekh Abdul Qodir Jaelani," ungkapnya.


Dihadapan ribuan jema'ah pada malam itu Syekh Fadhil menyampaikan dasar pondasi dan ilmu menurut Sayyidi Abdul Qodir Al-Jaelani. 


Dikatakan beliau, Syekh Abdul Qodir Al-Jailani menyampaikan bahwa pondasi dasar landasan dari ilmu itu, baik itu ilmu agama, ilmu ma'rifat hakikat, ilmu akhlak itu landasannya adalah Assidiq yaitu kejujuran. 


Karena menurutnya, Allah SWT di dalam Al-Qur'an mendudukkan dan meletakkan derajat kejujuran setelah derajat kenabian. Demikian juga kejujuran adalah sebab dari seseorang menjadi pewaris dari kenabian. 


"Kejujuran akan mewariskan ilmu, mewariskan hikmah, kejujuran mewarisi akhlak, kejujuran juga mewariskan rezeki yang halal dan luas. Demikian juga kejujuran mewariskan derajat yang tinggi disisi Allah SWT para Malaikat. Demikian juga kejujuran adalah derajat yang amat sangat mulia ditengah masyarakat," Jelasnya. (anuk)


Lebih baru Lebih lama
.



.