Khutbah Jum'at: Menunaikan Puasa Ramadhan Dengan 3 MI



اَلْحَمْدُ ِللّٰهِ جَعَلَ رَمَضَانَ شَهْرًا مُبَارَكًا، وَفَرَضَ عَلَيْنَا الصِّيَامَ لِأَجْلِ التَّقْوٰى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ . اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مَحَمَّدٍ الْمُجْتَبٰى، وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ التُّقٰى وَالْوَفٰى. أَمَّا بَعْدُ، فَيَاأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ! أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى. فَقَالَ اللهُ تَعَالٰى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ


Kaum muslimin sidang Jum’ah rahimakumullah,

Pertama dan yang utama marilah kita panjatkan puja sepadat jiwa serta puji sepenuh hati kehadhirat Allah Swt Rabbul Izzati, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayahNya sehingga pada hari ini kita telah memasuki Jum’at pertama menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadhan 1442 Hijriyah.

 

Shalawat seiring  salam semoga terlimpahruah kepada nabi akhir zaman, Baginda Nabi Besar Muhammad Rasulullah Saw yang senantiasa kita rindukan syafa’atnya hingga hari kemudian.

 

Marilah kita bersama-sama meningkatkan kadar takwa kita kepada Allah SWT, dalam  arti menjalankan segala perintah-perintahNya serta berusaha menjauhi segala larangan-laranganNya.

 

Kaum muslimin sidang Jum’ah rhm,

Alhamdulilah, tak hentin-hentinya kita bersyukur kepada Allah SWT, karena dengan Rahman dan Rahim-Nya apa yang kita harapkan, apa yang kita inginkan dan cita-citakan di sepanjang Rajab kemarin, dengan memanjatkan doa penuh pengharapan yakni Allahumma bariklana fi rajaba wa sya’bana wa ballighna Ramadhana (Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami kenikmatan di Bulan Ramadhan). Kini, Allah kabulkan doa kita. Sekarang kita sudah memasuki bulan nan mulia, bulan nan suci, bulan penuh rahmah dan ampunan yaitu Syahru Ramadhan.

 

Pada satu sisi yang lain, kitapun masih diliputi keperihatinan yang mendalam, betapa tidak berdasarkan hasil swab massal yang diikuti oleh komponen masyarakat, tenaga kependidikan, ASN dan lain sebagainya ternyata hasilnya menunjukkan bahwa masih banyak saudara-saudara kita, rekan-rekan kita yang terdeteksi positif Corona. Masya Allah…Allahumma ba’idna. Ini artinya, ujian yang diberikan Allah kepada kita dengan wasilah Corona ini belum berakhir.

 

Oleh karenanya, memalui mimbar yang mulia ini, izinkan Khatib memberikan wasiat disamping wasiat takwa, tapi tak pentingnya juga wasiat agar kita selalu waspada, selalu siaga dan tetap memperhatikan protocol kesehatan dan selalu menjaga kesehatan agar kita terhindar dari virus tersebut. Sejatinya raga kita, tubuh kita memiliki hak untuk kita jaga kesehatannya.Tubuh kita adalah bagian dari amanah yang diberikan Allah kepada kita, oleh karenanya wajib kita untuk menjaganya.

 

Terkait dengan mengisi Ramadhan ini marilah kita isi dengan TIGA MI. MI yang pertama : meningkatkan iman. MI yang kedua meningkatkan imun dan MI yang ketiga meningkatkan ilmu.

 

Kaum muslimin sidang Jum’ah yang berbahagia,

MI yang pertama adalah Meningkatkan Iman.

KH. Saifuddin Zuhri, seorang tokoh NU pada masanya, menggambarkan puasa Ramadhan itu laksana pemisah antara ketaatan takwa dengan pengekangan hawa nafsu yang keji. Rasa lapar, kehausan dan kekangan nafsu membuat kelezatan ruhani tersendiri. Oleh karenanya Baginda Nabi SAW memberi khabar gembira : “Bagi orang yang berpuasa mempunyai dua macam kegembiraan, gembira saat menjelang waktu berbuka dan gembira kelak saat berjumpa dengan Tuhannya”. Di atas semua itu tentu landasan utamanya adalah Iman dan ujung perjalanannya adalah Takwa, seperti  firman-Nya dalam surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa puasa itu diwajibkan kepada mereka yang beriman.

 

يَاۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءٰمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”

 

Para ulama menyebutkan seorang muslim itu memiliki karakteristik iman “yazidu wayanqushu” (bisa bertambah dan berkurang, fluktuatif, dinamis kadang grafiknya naik, stabil tapi kadang pula menurun). Momentum Ramadhan seyogyanya dijadikan sebagai sarana peningkatan kadar iman. Sebab asas puasa itu sendiri adalah iman.Puasa adalah “persembahan” seorang hamba hanya untuk Allah SWT.“Hakim Tunggal” yang menentukan seberapa besar dan berat kualitas puasa seorang hamba, hanyalah Allah Azza Wajalla.Sebab kata Nabi sendiri, “betapa banyak umatku yang berpuasa tapi yang ia rasakan hanyalah lapar dan dahaga di siang hari dan kenyang di malam hari” (HR. An-Nasa’i).

 

MI yang kedua adalah meningkatkan imun.

Dalam satu tahun Allah memberi kita nikmat dua belas bulan.Disadari atau tidak, sebelas bulan kita isi dengan beragam aktifitas duniawi, model gaya hidup yang segalanya cuma dinilai dan diukur dengan kriteria serba materialistic. Padahal sebagai anak manusia, kita memiliki instrumen-instrumen lahiriyah dan ruhiyah yang memerlukan asupan nutrisi dan imunitas.Di mana nutrisi dan imunitas itu amat diperlukan untuk membentengi diri dari gangguan yang nyata maupun yang kasat mata. Kemudian Allah memberi kita “hadiah” satu bulan (yakni Ramadhan) saatnya kita memperbaiki dan  meningkatkan imunitas tubuh kita.

 

System kekebalan tubuh yang diikhtiari dengan asupan makanan yang bergizi (dan tentu halalan thayyiban), serta vaksinasi (misalnya) adalah sebuah keniscayaan.Tetapi imun ruhiyah kitapun perlu dijaga dan ditingkatkan, yakni dengan “Salimul aqidah” (meluruskan akidah) dan “Shahihul ibadah” (memperbaiki ibadah).Dengan demikian meningkatkan imun itu bisadiupayakan untuk kesehatan jasadiah/tubuh dan kesehatan ruhiyah/mental spiritual.

 

Vaksinasi adalah bagian kecil saja dari ikhtiar kekebalan atau imunitas tubuh terhadap berbagai macam virus.Tetapi sejatinya system imunitas ruhiyah juga sangat penting.Imunitas ruhiyah itu berupa banyak membaca al-Qur’an, shalat tengah malam, zakat infak dan sedekah, memperkuat silaturahim, dan tentunya muqarabah atau mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Kadang kenikmatan sehat itu kita rasakan saat kita ditimpa rasa sakit. Inilah isyarat Baginda Rasulullah SAW, agar kita senantiasa berhati-hati terhadap lima perkara sebelum lima perkara menimpa kita, yakni : hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, sempat sebelum sempit, muda sebelum tua dan kaya sebelum miskin (HR. Al-Hakim).

 

Jamaah rahimakumullah,

Kemudian MI yang ketiga adalah  meningkatkan ilmu.

Tidak bisa dipungkiri, awal munculnya Corona terjadi selisih pendapat di kalangan semua komunitas, dan mungkin sampai sekarang masih kita rasakan.Ada yang mengatakan ini semua rekayasa belaka, konspirasi global dan lain sebagainya.Bahkan ada juga yang menyebutkan sesungguhnya Corona itu tak pernah ada.Kebersamaan, saling pengertian, saling memahami dan saling menjaga diri dan menghormati perbedaan pendapat – adalah mutlak diperlukan. Sembari mencari tahu, dan terus menggali ilmu pengetahuan terkait dengan adanya virus Covid 19 itu kemudian berikhitar zahir dan batin menghadapinya, menjadikan kita akan lebih bijak mensikapinya.  Mengembangkan perdebatan di ranah publik, seolah-olah pendapatnyalah yang paling benar justeru pada akirnya akan melahirkan virus berikutnya, yakni virus fitnah.

 

Oleh karenanya yang mutlak diperlukan adalah menemukan inovasi, mengembangkan dan meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghadapi problema ini. Bukankah Allah SWT menjanjikan bahwa sesungguhnya bersama  kesulitan pasti ada banyak kemudahan (lihat Al-Insyirah ayat 5-6). Dengan tekad ini, sejatinya Corona melahirkan banyak temuan atau inovasi produk ilmu pengetahuan dan taknologi.Sejalan dengan itu dengan momentum Ramadhan ini hendaknya kita jadikan Ramadhan sebagai bulan ta’lim dan tarbiyyah.Belajar dan terus belajar mendalami agama, agar hidup dan kehidupan kita tidak salah arah.Menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan tarbiyyah berarti juga ikhtiar kita keluar dari kebodohan dan kejumudan berfikir.


يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَٰتٍ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

 Artinya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi lmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadilah : 11)

 

Alhasil, dengan Tiga MI Insya Allah kita akan memperoleh 3 M, yakni mulia di dunia, mulia di akhirat dan mulia di dunia dan di akhirat.Mari kita memulainya dengan 3 M pula, yakni mulai dari diri kita sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil dan mulai dari sekarang.


وَٱلْعَصْرِ. إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ . إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ  اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْم  فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ . رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ . رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ،  سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى اْلمُرْسَلِيْنَ وَاْلحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ .

عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ.

Penulis : Muhammad Nashir Syam

Wakil Sekretaris PCNU Ketapang

 

 

Lebih baru Lebih lama
.



.