Kyai Miftachul Akhyar: Pesantren Benteng Terakhir Pendidikan


NU KETAPANG - Pesantren adalah benteng terakhir suatu pendidikan yang menginginkan produk-produk anak didik yang bukan hanya pintar otaknya dan cerdas intelektualnya tapi juga cerdas dan pintar spritual keagamaannya.


Hal itu dikatakan Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar dalam tausiyahnya pada acara Haflatul Ikhtibar dan Wisudawan Wisudawati Program Takhassus Pondok Pesantren Mambaul Khairat Ketapang, Kalimantan Barat, Ahad (27/3) malam.


Menyampaikan perkataan Al-Imam Sahl bin Abdullah at-Tusturi di abad ke dua Hijriyah, beliau mengatakan manusia semuanya rusak, rusak tata nilai hidupnya, sudah mulai rusak etika dalam kedepannya, kecuali ulama. Ulama pun dalam kebingungan, kecuali yang mengamalkan ilmunya.


Apalagi saat-saat seperti ini menurutnya berita hoax justru menjadi acuan utama. Semua tidak ingin ketinggalan dengan berita-berita hoax. Semua ingin ikut bersama-sama men-share, memakmurkan, meramaikan. Sehingga terjadilah pemutarbalikan antara keadaan dan kenyataan. 


"Contoh, dulu kata positif itu dan dicari orang, sekarang orang lari ketakutan dengan positif itu. Justru sekarang mencari negatif, ini contoh," ujar Kyai Miftach Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Surabaya.


Dan keadaaan ummat menurut beliau sudah mengalami penipisan-penipisan pemahaman terhadap agama. Membedakan antara hak dan batil sudah kesulitan. 



"Saya berbesar hati, menjadi semangat melihat santriwan santriwati di sini mendapat juara yang diraih di pondok, di tingkat kabupaten, provinsi bahkan sampai ke Jawa. Karenanya anda-lah harapan masa depan kita. Anda-lah generasi idaman masa depan," ungkapnya dihadapan santriwan santriwati, para wali dan para undangan.


Lebih lanjut beliau mengatakan, kira-kira tahun 2035 nanti akan mengenal dengan namanya Bonus Demografi. Itu akan dialami oleh bangsa Indonesia, yang mana bumi demografi ini sebuah situasi, keadaan usia produktif akan dominan sekali mencapai kurang lebih 70 persen.


Kalau manusia produktif antara 15 sampai 65, maka itu yang akan mendominasi pada puncaknya. Artinya pada tahun itu kesejahteraan akan merata, karena yang dominan adalah usia yang produktif. Menurut penelitian dan hasil survei sudah menaik usia-usia produktif, puncaknya pada tahun 2035. 


Tapi keberadaan usia produktif itu ternyata menurut Kyai Miftachul Akhyar hanya cerdas otak dan intelektualnya, namun tidak cerdas spritualnya, tidak cerdas hatinya. Contoh sudah banyak sekarang, Jakarta tempatnya orang pintar-pintar, gelar apa saja, sejak reformasi dengan macam-macam gelar dilahirkan.


"Lembaga-lembaga pendidikan yang ada disekitar hanya menjamin melahirkan anak didik yang pintar saja, kecuali pondok pesantren atau lembaga-lembaga yang dalam pengawasan, perlindungan, naungan pondok pesantren. Ini sekarang yang akan menjadi harapan kita, yang melahirkan tidak hanya pintar tapi juga benar," jelasnya. (anuk).


Lebih baru Lebih lama
.



.