Catatan Silaturrahmi ke NU Online PBNU, NU Online Gerbang Terakhir Untuk Menjaga Visi NU

Menerma sebuah kitab dan dua buku saku dari Hamzah Sahal Redaktur NU Online yang juga Sekretaris LTNU PBNU.

Beberapa hari yang lalu, tepatnya hari Kamis, 4 Mei 2023, sekitar pukul 14.20 wib, saya berkesempatan bersilaturahmi ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) beralamat di Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta Pusat.


Gedung PBNU yang megah itu dibangun pada masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid, yang saat itu menjabat Presiden ke-4 RI dan juga Ketua Umum PBNU. Pembanguan gedung ini juga bertepatan dengan peringatan Hari lahir Nahdlatul Ulama ke-94 yang jatuh pada tanggal 31 Januari 2020. Hanya dalam jangka dua tahun gedung berlantai 9 yang megah dan mewah itu bisa terselesaikan dan diresmikan pada 6 Juni 2001/ Rabiul Awal 1422.


Keinginan saya untuk berkunjung ke gedung megah PBNU sudah lama saya niatkan. Beberapa kali ke Jakarta, namun tidak ada waktu untuk itu. Disela-sela waktu kegiatan mengikuti Bimbingan Teknik Layanan Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag RI, akhirnya saya luangkan waktu untuk datang ke PBNU.


Menghindari kemacetan arus lalu lintas, saya harus naik motor ojek online, sebab waktu saya juga terbatas, hanya sebentar saja meminta izin ke panitia. Dan saya harus kembali lagi kegiatan utama. Tanpa ditemani siapapun, perjalanan kurang lebih 15 menit, saya sudah tiba di lokasi. 


Menuju ke pos penjagaan, saya memperkenalkan diri, dan bermaksud bersilaturahmi ke jajaran redaktur NU Online. Petugas keamanan gedung NU yang berlabel logo NU ini mengarahkan saya untuk langsung menuju lantai lima. "Terima kasih pak,' jawabku.


Memasuki lantai dasar, saya tidak langsung menuju lift. Tetapi saya berhenti untuk mengambil dokumentasi di ruangan itu. Banyak rekanan tamu di ruang itu dan yang hadir hanya sekedar untuk mengabadikan moment itu dengan berfoto dan selfie. Saya pun tidak ketinggalan, dibantu petugas ruangan, saya mengambil posisi yang berlogo NU dan tulisan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, disitulah saya berpose.


Selang beberapa waktu kemudian saya langsung menuju lift. Tiba dilantai lima, kemudian saya diarahkan petugasnya untuk langsung masuk keruangan redaksi NU Online.


NU Online adalah situs keislaman yang dipunyai PBNU. Konten dirujuk dari sumber-sumber otoritatif, menyajikan layanan informasi keagamaan dengan mengedepankan prinsip moderat dan toleran.


Pada tahun 2020, berdasarkan penelusuran rangking di Alexa, NU Online menduduki peringkat pertama dari 100 situs-situs Islam Indonesia. Situs web resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menjadi media keislaman yang paling banyak dikunjungi pembaca. Bangga tidak warga NU?


Assalamualaikum, sapaku dimuka pintu masuk. "Wa'alaikumussalam, silakan masuk pak," jawab mereka yang yang ada di ruang itu. Ditanya dari mana, saya memperkenalkan diri kepada mereka, yang kemudian maksud dan tujuan bersilaturahmi di NU Online. Dengan ramah dan penuh kekeluargaan mereka merespon sangat positif.


Catatan penting yang saya peroleh dari obrolan kami di ruangan redaksi saat itu, antara lain sebagaimana yang disampaikan Mas Hamzah Sahal. Beliau adalah Redaktur NU Online dan juga sebagai Sekretaris LTN (Lembaga Ta’lif wan Nasyr) PBNU.


LTNNU adalah salah satu perangkat organisasi NU yang berfungsi melaksanakan program-program yang memerlukan penanganan khusus dalam bidang penulisan, penerjemahan dan penerbitan kitab/buku (sumber-sumber literatur), serta berperan sebagai media penyebaran informasi, gagasan dan keilmuan menurut paham Ahlus Sunnah wal Jama’ah.


Ketika saya menyampaikan keinginan untuk difasilitasi penyediaan website di daerah khususnya di Ketapang. Beliau merespon positif. Hanya saja menurut pria ini penyediaan web di daerah langsung dibawah koordinir LTNNU wilayah. Pihaknya tidak menyediakan per cabang.


"Kita bantu pasilitas teknologinya, website tinggal makai. Logopun dikirim. Calon pemimpin redaksinya harus magang satu bulan dimaksud agar lebih berinteraksi dengan teman-teman disini, melihat sistem kerja kami, juga mengenal pengurus di PBNU," jelas Hamzah.


Lebih lanjut dikatakan beliau, ada tahap-tahapnya, biar ada pengalaman. Pengalamannya bukan hanya konsistensi tapi pengalaman orientasi ke visi dan misi. "Misalnya dalam kasus yang sangat mudah untuk dipolitisasi dan dikuasi oleh partai politik tertentu atau partai politik manapun, itu tidak boleh," katanya.


Karena menurut Hamzah, NU Online gerbang terakhir untuk menjaga visi NU. Jadi pengurus PB pun tidak bisa asal rilis berita. "Misalkan Gus Yahya ceramah di partai politik, itu tidak kita di masukin, kalaupun masuk ada aturan mainnya," jelas Hamzah salah satu penulis Biografi Mbah Hasyim Asy'ari.


Mas Hamzah juga berpesan agar diseriusin diposisi manapun ketika diamanahi di kepengurusan NU termasuk di LTNU. "Dan akan lebih menjadi sangat penting untuk generasi berikutnya jika bertugas bagian media NU," ujarnya, mengakhiri obrolan seputar media NU.


Pada kesempatan itu juga, saya dihadiahi oleh-oleh barang berharga dari NU Online, yakni berupa satu kitab dan dua buah buku. Kitab itu adalah Tsaquf al-Akhyar an-Nahdliyyah fi Muallafat al-Ulama al-Inudinisiyah., kumpulan 12 kitab karya ulama Nusantara sepanjang 500 tahun. 


Kitab ini juga menjadi salah satu buah tangan atau cenderamata untuk para ulama yang menghadiri Muktamar Internasional Fiqih Peradaban yang digelar pada Senin, 6 Februari 2023 lalu di Hotel Shangri-La Surabaya, Jawa Timur.


Dua buah buku saku yang lain adalah buku Ikhtisar Biografi Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari (1871-1947) dan Ikhtisar Sejarah Nahdlatul Ulama (1344/1926). Kitab tersebut di atas diterbitkan Lembaga Ta’lif wan Nasyr (Kominfo dan Publikasi) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU).


Usai serah terima penyerahan buku dari Mas Hamzah, saya undur diri, pamit untuk kembali ke tempat kegiatan utama saya di Hotel Mercure Ancol Jakarta.


Penulis : M. Syafi'ie Huddin

Wakil Ketua Tanfidziah PCNU Ketapang membawahi LTNU, LAZISNU dan LPWNU.

Lebih baru Lebih lama
.



.