Syarif: Komunisme dan Radikalisme Ancaman Bagi Indonesia



NU KETAPANG - Menurut Dr. H. Syarif, MA. Rektor IAIN Pontianak, bahwa di Indonesia hari ini ada dua ancaman untuk tidak damai negeri ini. Pertama adalah komunisme yang kedua adalah radikalisme. Menurutnya, keduanya sama-sama berbahaya. Demikian dikatakan sa’at menyampaikan ceramah pada Pengajian Akbar dalam rangka memeriahkan HSN Senin malam (21/10) di halaman Mapolres Ketapang.

“Malah kadang radikalisme itu menurut saya yang lebih mengkhawatirkan. Apa sebab, kalau komunis itu mereka akan berhadap-hadapan dengan agama, sementara radikalisme justru mereka menggunakan istilah atau termenologi agama, misalnya kata jihad diganti menjadi hijrah.” Kata putra asal Ketapang yang sa’at ini sudah menetap di Pontianak.

Menurut Syarif Sekretaris Pengurus Cabang Nahdaltul Ulama (PCNU) Kota Pontianak, ada empat indikasi radikalisme di Indonesia. Pertama, anti Pancasila dan UUD 1945. Kedua anti NKRI. Ketiga, intoleransi antar umat beragama, dan keempat adalah berfikir, bergerak dan bercita-cita membangun khilafah Islamiyah.

Oleh karena itu menurutnya, jangan heran jika hari ini ada gerakan medsos, agar anak-anak negeri ini anti NKRI, benci Pancasila dan UUD 1945. Mereka menganggap apapun produk yang dihasilkan pemerintah, dan andaikan di Senayan itu sekelas malaikat sekalipun mereka tetap menganggap thogut. Kenapa, mereka ada target besar bahwa demokrasi yang berasaskan Pancasila ini dianggap tidak benar, sehingga muncul dengan terminologi baru dengan nama NKRI bersyari’ah.


“Saya ingin bercerita ketika diundang mendadak, prosesnya hanya satu minggu dari khadimul Haramain Malik Salman As Sa’ud, dibujuk-bujuk saya dengan mereka, lalu saya bilang saya merasa nyaman dengan NKRI saya, kalau anda maksa tolong contohkan kepada saya satu negara saja yang mengatasnamakan negara Islam yang lebih baik dari Indonesia? Mana , tidak ada.” Kata Syarif.

Menurut Syarif, negara Mesir, Suriyah, Apganistan mereka tidak aman. Apganistan punya tujuh suku bangsa berperang yang tak selesai-selesai. Lalu kenapa NKRI mau diuatak atik? Dan tolong sebutkan, mana ajaran Islam di Indonesia yang dilarang?

“Bahkan tanggal 22 Oktober dijadikan sebagai hari santri nasional, dan baru-baru ini Pemerintah juga telah mengeluarkan Undang-Undang Pesantren, walau ada juga kelompok yang menolak undang-undang itu, kenapa karena mereka tahu bahwa santri adalah paku-paku NKRI.” Katanya.

“Pesantren dan santrinya akan konsisten dengan menangkal gerakan-gerakan yang anti Pancasila, menghadang mereka yang akan merubah negara ini. Cukup, kita sudah hidup enak dengan ibadah yang tenang, rukun dan damai di NKRI ini.” Kata Syarif. (anuk).

Lebih baru Lebih lama
.



.