Nuruzzaman: Bentuk NKRI Sudah Final Sebagai Konsensus Para Ulama



NU KETAPANG – Dr. Muhammad Nuruzzaman, M.Si. mengatakan, bahwa Piagam Madinah adalah konsensus kebangsaan warga Madinah, bukan hanya umat Islam tetapi disitu ada berbeda suku dan agama lain. Menjadi kesepakatan, semua orang yang ada di Madinah semuanya sama dimata hukum.  Jika ada orang Yahudi yang bersalah maka dihukum, demikian juga jika ada orang Islam mencuri dihukum dengan yang sama.

Pernyataan itu disampaikan dalam tausiyahnya di hadapan ratusan undangan yang hadir pada acara Peringatan Maulid Akbar, Jum’at (29/11) di halaman Kodim 1203 Ketapang. Penyelenggara Maulid Akbar adalah atas kerjasama antara Kodim 1203, Pemda, DPDR, Polres, Kejari, PCNU dan PHBI Ketapang.

Menurut Nuruzzaman, ini sama dengan yang dilakukan para ulama-ulama Indonesia yang telah membuat konsensus kebangsaan di negari ini. Apa konsensusnya? Bahwa bentuk negara ini adalah NKRI, Pancasila, Bhinika Tunggal Ika dan UUD 1945. Konsensus itu disepakati, semua warga negara sama dimata hukum. Jadi ulama-ulama dahulu mengambil keputusan sebagaiamana Nabi Muhammad ketika melakukan konsensus kebangsaan.


“Kenapa ini penting disampaikan, karena hari ini ada kelompok-kelompok yang merongrong dan mempermasalahkan konsensus bangsa kita. Ada upaya ingin merubah konsensus itu, baik secara resmi maupun tidak resmi. Mereka ingin merubah negara ini menjadi bentuk lain yang sudah disepakati para pendiri bangsa.” Kata Komandan Desnsus 99 Asmaul Husna Pimpinan Pusat GP Ansor Jakarta.

Nuruzzaman yang tampil tidak biasanya bagi kebanyakan seorang penceramah. Dengan hanya memakai kemeja putih dan celana gelap, kopiah hitam tanpa sorban. Berceramah pun tidak berdiri,  duduk bersama undangan yang lain. Bagi yang melihat atau yang belum mengenalnya, tidak menyangka jika dia adalah sebagai penceramah di acara Maulid Akbar itu.

Menurutnya, ada pertanyaan mendasar, kenapa ulama-ulama dulu membuat konsensus ini tidak menjadikan negara Islam tetapi menginginkan negara Indonesia, padahal kealiman ulama-ulama dulu melebihi ulama sekarang dan kemunginan ada peluang besar jika menjadikan bangsa ini menjadi negara Islam.

“Kalau Indonesia ini menjadi negara Islam, ada daerah lain yang akan memisahkan diri dari Indonesia. Oleh karena itu, para ulama menyepakati tidak menjadikan Islam sebagai dasar negara, tetapi Pancasila sebagai dasar negara yang bisa mempertemukan kelompok seperti yang dilakukan Nabi Muhammad Saw ketika membuat Piagam Madinah.” Kata penulis buku Pancasila Versus Khilafah ini.

Dalam salah satu pasal di Piagam Madinah itu, apabila Madinah diserang Quraisy Mekkah, maka warga Madinah baik yang Islam maupun buka Islam wajib mebela negerinya. Sama dengan yang dilakukan oleh ulama-ulama negeri ini seperi apa yang dilakukan oleh Mbah Hasyim As’ari ketika membuat fatwa Resolusi Jihad.

Menurutnya, mereka secara terang-terangan merongrong dan ingin merubah bentuk negara ini dengan jalan di luar konstitusi sebagaiama yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mereka memiliki konsep merebut kekuasaan, maka TNI dan Polri menjadi target yang strategis untuk dilobynya, kenapa? Tanya Nuruzzaman, karena mereka ingin menguasai negara ini dengan cara kudeta. 


“Dan mereka sudah melakukan itu dibeberapa negara di Timur Tengah walau akhirnya gagal. Hizbut Tahrir itu bukan organisasi Islam, karena Hizbuz itu artinya partai dan Tahrir itu pembebasan, maka Hizbuz Tahrir itu adalah Partai Pembebasan, hanya saja banyak yang tidak mengetahui dengan menganggap Hizbuz Tahrir adalah organsiasi Islam.” Katanya.

Kemudian selain itu, ada kelompok yang merasa benar sendiri yang lain salah selain dirinya. Teroris itu tidak terjadi begitu saja, tetapi mengalami proses sebelum melakukan bom bunuh diri. Mereka melakukan proses dan tahapan, pertama, adalah intoleran. Intoleran itu adalah orang merasa benar sendiri dan orang lain salah kalau tidak sama dengan dirinya.

“Merasa benar sendiri yang lain selain dirinya salah, Maulid bid’ah, ziarah kubur musyrik, tahlil bid’ah. Semuanya diharamkan yang benar adalah mereka yang lain salah, padahal sesama umat Islam. Inilah potensi terorisme, kenapa, karena tidak menghargai orang lain yang berbeda dengan dirinya.” Kata sosok yang pernah jadi saksi ahli dalam sidang pembubaran HTI.

Menurutnya, Perbedaan itu sunnatullah, perbedaan itu diberikan oleh Allah agar menghargai perbedaan, apakah tidak mungkin Allah itu membuat yang sama, mungkin. Bibit-bibit terorisme dan pelaku intoleran kini banyak. Berdasarkan hasil penelitian dibanyak negara sarang teroris termasuk pelaku di Indonesia mereka bukan beraqidah atau bermazhab ahlusunnah waljama’ah.

Bagi mereka yang tidak sama dengannya dianggap haram, sesat dan neraka. Jika memang tidak sepaham seharusnya dihargai tanpa harus mengikuti dan mengatakan sesat, bid’ah dan neraka, karena walau bagaimanapun apa yang dilakukannya berdasar keyaninannya yang dianggap benar. Dan orang-orang kelompok yang merasa benar mereka banyak di Indonesia.

“Indonesia adalah tempat kita, dimana airnya diminum, padi yang ditanam kita makan, kita shalat sujud di tanah ini dan matipun kita akan dikubur di tanah ini. Apakah kita rela tanah ini dirusak dan dihancurkan oleh orang lain?” Tanya Nuruzzaman.

Kita tetap menjaga tanah ini sebagaiamana yang diwariskan oleh para pendiri bangsa ini hidup berdampingan dengan yang berbeda. Karena kita diajari Nabi Muhammad Saw untuk berkometmen menjaga negara seperti Madinah. “Dan kita juga berkometmen untuk menjaga negara Indonesia. Indonesia negara yang tentram, damai, tidak seperti di Timur Tengah terjadi perang tidak selesai-selesai.” Tutur Muhammad Nuruzzaman.

Kendati hujan begitu deras, hingga membuat undangan dan pencaramah yang duduk di atas pentas basah semua, namun tidak menyurutkan semangat dan antusias jemaah untuk hadir di acara peringatan kelahiran Rasulullah Muhammad Saw ini. Banyaknya jemaah yang hadir di acara Maulid ini ditandai dengan penuhnya kursi tempat duduk undangan yang disediakan panitia. (ANUK).


Lebih baru Lebih lama
.



.