Memperingati Haul Ke-11 Gusdur, PCNU Ketapang Gelar Tahlil dan Do'a


NU KETAPANG - Dalam rangka memperingati Haul ke-11 KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) pada hari wafatnya tanggal 30 Desember. Pengurus Cabang Nahdaltul Ulama (PCNU) Kabupaten Ketapang gelar Tahlil dan Do'a. Acara dilaksanakan di Sekretariat NU Ketapang, jalan R. Suprapto Ketapang, Rabu (30/12).


Ratusan jamaah tampak hadir memenuhi ruang aula Sekretariat NU. Selain dihadiri jajaran Mustasyar,  Syuriyah, Tanfidziah, Lembaga dan Pimpinan Cabang Badan Otonom (Banom) NU Ketapang, juga dihadiri undangan lain penerima paket sembako.


Pembacaan Yasin, Tahlil dan Do'a serta Tausiyah diperingatan Haul Gus Dur itu, juga dirangkai dengan pembagian paket sembako kepada 45 dhuafa oleh Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (Lazisnu) Ketapang.


Baca juga:


Dalam sambutannya Ketua Tanfidziah PCNU Ketapang Drs. H. Satuki Huddin M.Si. mengatakan, diadakannya Peringatan Haul ke-11 tidak lain adalah dalam rangka mengenang dan menggali pemikiran-pemikiran Gusdur dan ide-ide besarnya, terutama terkait masalah kebangsaan.


Dikatakan H. Satuki, bahwa pemikiran-pemikiran Gusdur itu bukan hanya diakui dilingkup nasional saja tapi mendunia. Ketokohan Gusdur bukan karena dia adalah sebagai Presiden, tetapi beliau adalah seorang ulama dan waliyullah. Selain itu juga jiwa keprihatinannya terhadap kaum dhuafa orang-orang yang lemah dan yang tertindas. 



"Jika acara malam ini dirangkai dengan penyerahan Paket sembako oleh LAZISNU, itu juga dalam rangka mentauladani pribadi Gusdur. Karena ketika beliau menjadi ketua umum PBNU sampai berlanjut menjadi Presiden, gajinya hanya untuk dibagi-bagikan." Kata H. Satuki.


Baca juga:


Menurut H. Satuki, kecintaan Gusdur terhadap bangsa ini melebih kecintaan kepada diri dan keluarganya. Pemikiran beliau yang besar itu adalah kecintaannya untuk merawat kebhinekaan. Karena itu beliau dikatakan sebagai bapak pluralisme. 


Oleh karena itu makam beliau sampai saat ini tidak pernah sepi dan putus-putus yang  ziarah ke makam Gusdur. Mereka yang datang dari berbagai kelompok, etnis dan semua agama dari berbagai daerah nusantara.


"Kalau orang-orang non muslim saja kagum dengan Gusdur, apalagi kita sebagai umat Islam, dan lebih khusus lagi sebagai warga Nahdliyyin. Kita terinspirasi dengan gerakan-gerakan dan pemikiran Gusdur, kita patut untuk melanjutkan perjuangannya." Katanya. (anuk).


Lebih baru Lebih lama
.



.